Van Gaal Salah Tukangi MU dan Ini Lima Penyebabnya

Louis van Gaal dipandang sebagai dewa penyelamat ketika ia datang ke Manchester United di musim panas 2014, tak lama setelah klub memecat David Moyes – yang membuat klub Setan Merah finish di peringkat tujuh klasemen akhir Premier League.

Van Gaal memang tak dibebani target juara di musim perdananya, namun ia langsung memberikan bukti dengan membuat tim menyelesaikan kompetisi di musim debutnya dengan berada di posisi empat dan otomatis kembali ke Liga Champions.

Momen positif sang meneer terus berlanjut, usai musim ini mereka konsisten ada di papan atas usai memainkan 12 pertandingan. Namun demikian, bukan berarti eks bos Belanda bebas dari kritik.

Beberapa mantan pemain United seperti Rio Ferdinand, Dwight Yorke, dan Paul Scholes, kompak mengkritik gaya dan taktik Van Gaal, yang dianggap terlalu pragmatis dan membosankan, berbanding terbalik dengan filosofi ofensif yang diusung oleh manajer legendaris, Sir Alex Ferguson.

Hal tersebut memang lantas dibantah sendiri oleh beberapa pemain United, yang mengatakan bahwa takkan ada yang peduli selama mereka terus menang. Namun apakah klub bisa terus memuaskan fans-nya dengan terus mempertahankan filosofi pragmatis ala LVG?

Berikut adalah lima alasan yang menunjukkan mengapa Van Gaal bukanlah manajer yang tepat untuk MU.

ryan giggs dan david beckham ist

1. Gaya Main

Usai periode buruk David Moyes di Old Trafford, Manchester United membutuhkan manajer yang sudah punya reputasi dan sudah membuktikan kemampuannya di level tertinggi, dan Van Gaal memenuhi semua syarat tersebut. Namun di musim perdananya, sang manajer gagal membuat tim kembali tampil garang dan tak sanggup mengingatkan dunia bahwa United masih merupakan tim yang layak diperhitungkan. Dan usai membeli sejumlah pemain di bursa musim panas, bahkan para fans garis keras United pun mulai hilang kepercayaan pada kemampuan Van Gaal untuk mengembalikan United ke era kejayaan dulu.

louis van gaal ist

2. Kurang Antusiasme

Fans Manchester United pasti ingat betul dengan emosi dan antusiasme yang ditunjukkan oleh Sir Alex Ferguson ketika ia mendampingi tim di pinggir lapangan, terutama selebrasi berapi-api yang ia lakukan usai klub mencetak gol vital. Namun Van Gaal justru amat berbeda. Selama 90 menit ia kebanyakan hanya duduk di bangku cadangan. Hal tersebut tentu bukan sesuatu yang biasa dilihat fans, usai 27 tahun mereka menikmati tingkah polah Fergie di pinggir lapangan – salah satu hal yang membuat banyak orang jatuh cinta pada Manchester United.

wayne rooney ist

3. Enggan Coret Rooney

Sejak datang ke Old Trafford, Wayne Rooney dipercaya akan jadi kapten dan pemimpin yang tak tergantikan di Old Trafford. Kini, ketika tiba waktunya sang pemain untuk memimpin rekan-rekannya keluar dari situasi sulit, ia justru tampil inkonsisten dan performa buruknya tak kunjung membaik. Di situasi seperti ini, Van Gaal justru terus memasang Rooney dan membiarkan ia bermain selama 90 menit, meski sejatinya ada beberapa opsi yang lebih baik di atas lapangan. Rooney adalah pemain brilian ketika ia 100 persen siap, namun tidak ada satu pemain sosok yang harusnya mendapat keistimewaan seperti dirinya, dalam tim yang tengah menargetkan gelar juara. Sikap keras kepala yang ditunjukkan Van Gaal bisa jadi bumerang musim ini.

daley blind dan marcos rojo ist

4. Pembelian yang salah

Di musim panas 2014, Van Gaal secara umum membeli tiga orang bek kiri: Luke Shaw, Daley Blind, dan Marcos Rojo. Meski ia mencoba berbagai kombinasi bebeda dengan Rojo dan Blind sebagai bek tengah, nampak jelas bahwa United tengah membutuhkan sosok bek sentral. Di musim panas 2015, United justru membeli dua gelandang bertahan, Morgan Schneiderlin dan Bastian Schweinsteiger. Lagi-lagi tak ada usaha untuk memperbaiki masalah di jantung pertahanan, apalagi Phil Jones dan Chris Smalling kerap diganggu masalah cedera.

louis van gaal 01 ist

5. Filosofi kuno

Van Gaal mengatakan filosofi Manchester United adalah menyerang, namun sepertinya ia tak menerapkannya dengan baik. Jelas bahwa para pemain tak mampu memahami taktik yang diusung oleh sang manajer sepenuhnya, meski ia yakin bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik di masa mendatang. Sejauh ini, dalam beberapa kali penampilan di Old Trafford, United lebih banyak memancing keraguan dari para fans, dengan tak menunjukkan aksi solid serta kreativitas, seolah tim bermain tanpa filosofi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *